Full of Hope, But Empty in Expectation

Leave a comment

Dear All temen-temen,
Udah lama ni aku ga nulis lagi.. dan tiba-tiba nulis, eh judulnya seperti itu..hehe

Sebenarnya dah lama aku ingin menulis tentang ini, tetapi belum punya dorongan yang kuat untuk menulisnya sampai aku mengalami suatu kejadian beberapa hari yang lalu. Sesuatu yang membuatku bisa belajar sesuatu, dan aku ingin temen-temen juga belajar sesuatu dari apa yang telah aku pelajari. Siap? Ok, mari kita mulai..

Pertama-tama aku ingin bertanya kepada temen-temen.. Siapa sich dari kita yang tidak pernah mengalami yang namanya kekecewaan? Sejak dari kita kecil, sampai sekarang, adakah yang belum pernah sekalipun mengalami yang namanya kecewa? (kalau ada, boleh tolong kasih emailnya ke aku, soalnya aku ingin berguru kepada org tersebut..hehe) Aku percaya bahwa ga ada dari kita yang tidak pernah mengalami yang namanya kekecewaan, ntah itu kecewa terhadap teman, pasangan, keluarga, keadaan, bahkan yang lebih parahnya adalah kekecewaan terhadap Tuhan. Benar tidak?

Kalau kita sedang kecewa, biasanya ada beberapa orang yang mengatakan “Itu sich tergantung reaksi kita saja terhadap keadaan tersebut, kita mau kecewa apa tidak” atau ada juga yang mengatakan “Itu pilihan kita, mau kecewa atau tidak.” Well, ga ada yang salah dengan perkataan mereka. Itu 100% benar dan aku setuju banget dengan apa yang mereka katakan. Itu merupakan pilihan kita untuk merasa kecewa atau tidak. Tetapi aku mau bahas sesuatu yang lebih dalam lagi soal ini, dibanding hanya soal sekedar pilihan.

Ada pepatah mengatakan “Lebih baik mencegah daripada mengobati” benar kan? Kalau kita bisa mencegah untuk terjdnya kekecewaan, kenapa tidak dilakukan? Tindakan kita untuk memilih tidak kecewa itukan adalah reaksi yang kita lakukan setelah keluar hasil atau resultnya yaitu kekecewaan, tetapi jika kita bisa mencegah terjadinya kekecewaan itu, tentunya akan lebih baik dan tidak harus membuat kita memilih antara kecewa atau tidak.

Nah, aku mau memulainya dengan suatu kalimat yang pernah diucapkan oleh salah satu mentor ku. Dia berkata begini, “Mengapa ada banyak orang mengalami kekecewaan? Penyebabnya simple, mereka tidak bisa mengatur ekspektasi mereka.” Ketika aku mendengar kalimat ini, aku cukup lama merenungi kalimat ini dan berusaha untuk mengerti apa maksud dari kata-katanya. Ketika aku merenungkan ini, aku berkesimpulan bahwa kalau ada orang yang bisa mengatur ekspektasinya, pastilah orang tersebut tidak mengalami kekecewaan. Benar tidak?

Kemudian pertanyaan selanjutnya, apa sich yang dimaksud dengan ekspektasi itu? Aku yakin temen-temen sering dengar, bahkan sering ucapkan, tetapi apakah temen-temen benar-benar mengetahui apakah definisi dari “ekspektasi” itu sendiri? So, aku mulai search, mulai mencari, mulai mendalami apa sich yang dimaksudkan dengan ekspektasi?

Nah, di tengah-tengah sedang mencari definisi tersebut, salah seorang teman memberikan suatu alamat blog, yang ternyata sedang membahas hal yang sama, nah, aku akan coba kutip beberapa dari kalimatnya tersebut. Ini nama penulisnya adalah K Shinta. Seorang penulis senior..hehe..berikut tulisannya..

Expectations. Siapa yg dalam hidup ini gak punya expectations? Gw rasa semua org punya expectations. Waktu ke restoran, expect makanannya enak. Waktu jalan2, expect tempatnya bagus. Termasuk juga saat menikah, expect kehidupan pernikahan akan lancar2 saja walaupun ada waktunya badai menghalang. hehe..Tul gak?

Expectations. Is it a good thing? It can be. Is it a bad thing? It can be. Tergantung dari apa yg kita expect. Sebenernya apa sih expectation itu?

Well, kalo di google translate sih artinya harapan. Tapi menurut gw, artinya gak pas. Kalo harapan itu lebih ke arah “hope”. Misalnya, waktu kita ke restoran, and hope that the food will be good. Kalau ternyata makanannya gak enak, well..yach kecewa..tapi yach mau gimana lagi. Beda kalo “I expect the food to be good”. Itu artinya kita tau makanannya biasanya enak..mungkin karena ini restoran mahal dan terkenal, mungkin karena kita emang udah biasa makan di situ. Intinya, kita tau makanan di situ enak, dan kita expect kali ini makanannya juga enak. Tapi, ternyata makanannya gak enak. gimana? Wah..kecewa..marah..HUFT! Kalo hope itu mungkin lebih kearah “I want the food to be good”, sementara expect itu lebih “I know the food is going to be good”. See the difference?

Nah, kalau temen-temen mau baca lengkapnya, silahkan lihat di sini http://hanshinta1.blogspot.com/2010/06/expectations.html

Ok, balik ke pembahasan. Dari pembahasan dia, aku menemukan sesuatu yang menarik lagi yang membuat aku berpikir tentang satu kata yaitu HOPE, atau harapan. Dan ternyata kalau menurut K Shinta ini, Expectation ini berbeda dari Hope. Dan dia dengan gamblang sudah menjelaskan perbedaannya. Secara garis besar Expectation itu artinya kita sudah pernah mengalami sesuatu dan kita tau tentang sesuatu itu dan expect kalau sesuatu itu akan sama seperti dulu yang kita tahu.

Seperti contoh restoran td, kita tau itu enak, maka next time pada saat kita datang, kita expect itu juga enak. Sedangkan kalau hope, kita mungkin tidak tau, atau tidak pernah mengalami hal tersebut, tetapi kita berharap untuk terjadi sesuatu seperti yang kita bayangkan. Di contoh restoran td, misalnya dia harganya mahal, tempatnya ok, maka kita berharap makanannya enak.

Namun, aku ga mau berhenti sampai disitu, dan terus mencari apa sich bedanya ekspektasi dengan harapan? Terlebih lagi ketika temen-temen pernah mendengar kalimat ini, “Don’t lose your hope“, tetapi di sisi lain, dikatakan “don’t expect too much“. Mana yang bener ni? Apalagi kalau temen-temen pernah dengar kata-kata “Pengharapan itu tidak mengecewakan”  Wow..kalau memang benar pengharapan itu tidak mengecewakan, mengapa kita mengalami kekecewaan? Apa sich sebenarnya yang salah? Nah, setelah mencari dan mencari, akhirnya aku menemukan jawabannya, dan aku harap ini bisa membantu temen-temen dalam memahaminya dan berguna dalam menjalni kehidupan ini.

Nah, sekarang coba kita pikirkan, mengapa sich kita bisa kecewa? Mengapa kekecewaan itu bisa muncul dan bisa kita rasakan? Mungkin ada beberapa dari kita akan menjawab, “Karena keinginan kita tidak terpenuhi” atau “Karena apa yang kita mau, itu tidak tercapai”. Iya, itu ada benarnya..Tetapi misalnya gini, kita mau ikut perlombaan, dan kita menginginkan juara I, tetapi kita belajarnya biasa aja, ga yang mati-matian, ga yang keras-keras amat, ga yang rajin-rajin amat. Nah, pas pengumuman, kita dapet juara II, apakah kita kecewa? Hmm..mgkn kita tidak akan kecewa. Lho knp? Kan keinginan kita tidak tercapai? Memang tidak tercapai, tetapi kita juga tau, effort kita ga segitunya, ga yang giman-gimana, makanya dapet juara II pun kita ga kecewa dan bersyukur. So, intinya kekecewaan itu ga selalu datang karena keinginan kita tidak terpenuhi.

So, mengapa kita bisa kecewa? Kapan kekecewaan itu datang? Kalau mau dibahasakan secara gampangnya, mengikuti rumus kepuasan pelanggan, maka kekecewaan itu bisa terjadi apabila cost (biaya) yang dikeluarkan lebih besar nilainya dibandingkan advantage (keuntungan) yang didapatkan. Atau bahasa gampangnya effort yang kita keluarkan tidak sebanding dengan hasil yang kita terima.

Kekecewaan tidak akan datang ketika mau juara I, trs kita belajar biasa-biasa aja, dan akhirnya jadi juara II. Kekecewaan tidak akan datang ketika kita ingin naik jabatan jadi manajer, tetapi kita ga berusaha perform dan mencapai target, sehingga cuman naik jadi supervisor.

Kekecewaan akan datang ketika kita ingin juara I, sudah belajar mati-matian, ga tidur, baca buku banyak, tetapi kita dapet juara II. Kekecewaan akan datang apabila kita ingin jadi manajer, sudah bekerja keras, memenuhi semua target, memenuhi semua keinginan bos, tetapi akhirnya kita cuman diangkat jadi supervisor. Kekecewaan akan terjadi apabila kita deketin cw yang kita suka, sudah beliin dia ini itu, sudah mengeluarkan efforf yang besar agar dia jadi cw kita, tetapi pas ditembak, malah ditolak. Hehe.. Am I making any sense to you guys?

Nah, setelah kita jelas dengan hal ini, maka kita sekarang masuk kepada pengertian Expectation dan Hope ini. Aku akan coba berikan beberapa definisi yang aku dapet dari om google tentang Ekspektasi dan Harapan ini, dan aku akan coba rangkum dan mengintisarikan apa yang akhirnya menjadi perbedaan diantara keduanya.

Kita mulai dari Hope. Berikut ini adalah beberapa pengertian HOPE:

“Hope is desire with UNCERTAINTY.”

“Harapan adalah keyakinan dalam hasil positif yang terkait dengan kejadian dan keadaan dalam kehidupan seseorang. Harapan menyiratkan sejumlah ketekunan – yaitu, percaya bahwa hasil yang positif adalah mungkin bahkan ketika ada beberapa bukti sebaliknya. Harapan sering hasil dari iman, iman membawa bentuk ilahi memberi inspirasi dan menginformasikan keyakinan positif”

“Hope: The act/practice/behaviour of putting both hands together, pray to God for something nice to happen, WITHOUT HAVING THE MENTAL IMAGE OF WHAT THEY WANT, BUT LEAVE IT TO FATE TO DECIDE WHAT HAPPENS

“Harapan: Anda benar-benar ingin dan berdoa sesuatu akan terjadi.Tapi Anda tidak menempatkan jiwa Anda ke dalamnya dan mengharapkan, tetapi Anda hanya berharap bahwa sesuatu yang terjadi akan berubah sejalan dengan keyakinan Anda, harapan.”

“Hope describes a feeling of optimism or a desire that something will happen.Hope is the action of wishing or desiring that something will occur”

Nah, itu td HOPE..sekarang apa definisi dari EXPECTATION.

“Expectation is desire with CERTAINTY.”

“Feeling unsatisfied? Creating expectations only borrows trouble Isn’t it funny how we fill up our lives with expectations and then wander around wondering why we feel so unsatisfied? The creation of expectation is the ultimate form of SELF-SABOTAGE, and it builds a strange stage for unhappiness.”

“Expectation: The act/practice/behaviour of waiting with sheer anticipation for something to happen/someone to appear, WHILE HAVING THE IMAGE OF WHAT THEY ARE EXPECTING TO RECEIVE/SEE/ETC

“Ekspektasi: Anda sudah mengharapkan sesuatu. Dengan citra mental dari apa yang Anda inginkan, Anda secara tidak sadar diarahkan diri untuk menunggu hal ‘gambaran mental’ diharapkan terjadi / muncul / terjadi.”

“Expectation refers to believing that something is going to happen or believing that something SHOULD BE A CERTAIN WAY

“Expectation: It is too narrowly focused into what YOU EXPECT and WANT that you have the thought that you ALREADY KNOW WHAT YOU WANT. So, if things turn out to be the way you have expected, you would seem oblivious to whatever that happened because you expected it. When things turn out to be better that what you expect, then its considered WOW. But if it ever happens to come out to be of a lower/less than expected quality as compared to your mental image, you would have been DISAPPOINTED.”

Nah, berdasarkan kedua definisi di atas, apakah temen-temen sudah bisa melihat perbedaannya? Satu hal yang menarik adalah kekecewaan selalu dilekatkan pada Ekspektasi dan bukan pada Harapan. Ekspektasi selalu digambarkan negatif, sedangkan Hope digambarkan positif.

Untuk lebih memperjelas pemahaman kita, aku mau pake beberapa kata kunci untuk menjelaskan kedua kata tersebut, sebelum aku akan mendefinisikan ulang tentang apa itu pengharapan dan ekspektasi.

HOPE : UNCERTAINTY, WITHOUT HAVING THE MENTAL IMAGE OF WHAT THEY WANT, BUT LEAVE IT TO FATE TO DECIDE WHAT HAPPENS.

EXPECTATION : CERTAINTY, SELF-SABOTAGE, WHILE HAVING THE IMAGE OF WHAT THEY ARE EXPECTING TO RECEIVE/SEE/ETC, SHOULD BE A CERTAIN WAY, DISAPPOINTED

Nah, temen-temen sudah bisa melihat perbedaannya belum? Harapan atau Hope adalah kita mengharapkan sesuatu terjadi dalam ketidakpastian, ketidaktahuan, dan berserah, sedangkan ekspektasi, kita berhadapan dengan sesuatu yang kita tau pasti akan terjadi, kita memiliki gambaran yang jelas terhadap apa yang akan terjadi, dan kita mengharapkan itu terjadi sesuai dengan apa yang kita bayangkan tersebut.

Ada perbedaan yang sangat mendasar dalam kedua pengertian tersebut, yaitu keberadaan Tuhan. Dalam Hope, kita memberi ruang yang sangat besar untuk Tuhan untuk melakukan apa yang Dia mau lakukan terhadap sesuatu yang kita inginkan, namun dalam Expectation, kita tidak memberikan ruang sedikitpun untuk keberadaan Tuhan, seolah-olah kita tahu apa yang akan terjadi dan kita tidak membutuhkan campur tangan Tuhan.

Dalam  ekspektasi, kitalah yang menjadi “tuhan” atas setiap rencana dan juga apa yang kita harapkan. Kita seolah-olah menjadi pengatur dari setiap hal yang kita harapkan akan terjadi, dan ketika terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang kita bayangkan, pikirkan akan terjadi, kita menjadi kecewa..!

Aku akan kasih satu contoh sederhana dari apa yang aku alami, agar temen-temen lebih memahaminya. Beberapa hari yang lalu aku merencanakan pergi dengan seorang teman dan aku telah menyusun rencana tentang kepergian kami tersebut, perginyanya jam berapa, pergi kemana dan akan apa di tempat tersebut. Semuanya telah terencana dengan baik sampai bahkan aku bisa membayangkan dengan detail apa yang akan terjadi, abis ini apa, setelah itu apa.

Aku memang tidak suka kalau pergi ke suatu tempat, ga jelas tujuannya apa, dan aku mulai merencanakannya. Tidak ada yang salah dengan merencanakan, namun semuanya menjadi salah ketika itu menjadi ekspektasi dan bukan lagi harapan. Everything is about me and my plan. Karena semuanya terlihat sangat pasti, sehingga aku mulai berekspektasi dan tidak lagi mengijinkan Tuhan untuk masuk dan turut campur tangan dalam rencana ku.

Aku tidak lagi membuka akan adanya kemungkinan terjadinya perubahan. Pokoknya apa yang aku bayangkan, itu yang harus terjadi. Dan yah, seperti yang terjadi dengan semua ekspektasi, akhirnya itu menuntun ku kepada kekecewaan. Rencana berubah, bahkan bukan hanya berubah, tetapi menjadi batal. Dan setiap hal yang aku bayangkan akan terjadi tiba-tiba menjadi hancur dan hilang seketika.

Ekspektasi membuat kita menjadi tertutup akan segala kemungkinan yang akan terjadi, seolah-olah apa yang sudah kita gambarkan dalam pikiran kita, itulah yang terbaik yang harus terjadi. Kita tidak lagi melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan dan juga rencana kita. Why? Karena kita dihadapkan pada suatu kondisi yang terlihat begitu pasti dengan semua kondisi dan kenyataan yang ada.

Sama seperti ketika kita belajar mati-matian, sedangkan kita lihat semua temen-temen kita belajarnya biasa-biasa saja dan bahkan cenderung ga belajar, maka kita diperhadapkan pada situasi yang kita rasa, pasti kita akan juara I. Sama halnya juga ketika kita berjuang dan berusaha keras untuk mendapatkan promosi, bahkan kita kenal dekat dengan atasan kita, berdasarkan fakta yang hampir pasti itu, kita membangun ekspektasi kita di atas dasar fakta yang ada dan tidak memberikan Tuhan ruang untuk ikut campur. Kita membangun suatu “harapan semu” diatas fakta-fakta yang terpampang dihadapan kita, fakta-fakta yang seolah-oleah menunjukkan pasti tidak akan ada kesalahan ataupun kegagalan.

Menarik contoh yang diberikan oleh K Shinta di dalam blognya, dia memberikan contoh begini,

Dalam kehidupan pernikahan, gw rasa banyak (walaupun gak semua) yg ngerasa kecewa. Suami yg waktu pacaran romantis banget, tiap bulan ngasih bunga..setelah married, lho koq gak ngasih bunga lagi? Istri yg waktu pacaran dulu cantik dan wangi selalu kalo lagi ngedate, koq sekarang kucel..tangannya bau sambal belacan pula. Suami yg dulu waktu pacaran selalu rapi, ternyata…setelah married, kaos kakinya abis pake sembarangan tarok aja di lantai. Istri yg waktu pacaran selalu tau mana makanan enak, ternyata..gak bisa masak?

Awalnya mungkin masalah2 kecil seperti itu, tapi lama2….menumpuk..menumpuk..dan menumpuk. Meledak deh. Ada juga sih pasti yg gak sampe meledak, dan berhasil diredam, tapi intinya gw rasa dalam kehidupan pernikahan ada kekecewaan. But why? Harusnya kalo udah cinta gak begitu kan? Wrong!

Menarik ketika kita membangun ekspektasi kita berdasarkan fakta-fakta yang kita tahu. Karena kita tahu pasangan kita itu orangnya romantis, maka kita ekspek untuk dia akan kasih kita bunga setiap hari. Karena kita tahu bahwa pada saat pacaran, pasangan kita itu selalu rapi, maka kita ekspek dia juga akan rapi setiap harinya setelah menikah. Bahkan kita mulai “liar” dalam ekspektasi tersebut, dan mulai membayangkan yang macam-macam.

Sekarang kita mengerti mengapa buku manual kita mengatakan,

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”

Terlihat dengan jelas ada 2 hal di dalam kalimat tersebut. Bagian awal berbicara tentang ekspektasi, sesuatu yang sangat jelas bisa kita gambarkan, dan bahkan kita berpikir bahwa apa yg sudah kita rencanakan itulah yang terbaik untuk diri kita, padahal hanya Tuhan yang tau yang terbaik untuk diri kita.

Sedangkan kalimat kedua berbicara tentang pengharapan, dimana Tuhan ikut terlibat dalam setiap hal yang kita harapkan dan rencanakan. Sehingga ketika ada perubahan apapun, kita tahu bahwa itu dalam kendali Tuhan dan kita tidak menjadi kecewa.

Sekarang kita juga mengerti ketika buku manual kita mengatakan “Pengharapan tidak mengecewakan” karena memang ketika kita berharap, kita tidak akan pernah merasa kecewa, dan karena itu juga buku manual kita tidak berkata “Ekspektasi tidak mengecewakan” karena ekspektasi pasti akan mengecewakan. Kita juga sekarang mengerti ketika dikatakan “Berharaplah pada Tuhan” dan bukan “Berekspektasilah pada Tuhan”.

Ketika dikatakan “Berharaplah pada Tuhan” Artinya kita memang punya rencana, kita memang punya keinginan, dan kita berjuang dan berusaha untuk mencapai yang kita inginkan tersebut, tetapi kita juga tetap memberikan Tuhan otoritas untuk menyempurnakan, mengubah bahkan membatalkan rencana kita tersebut dan menggantinya dengan yang lebih sempurna menurut pemandangannya. Jalan-jalanNya terlalu tinggi dan dalam untuk bisa kita pikirkan.

Namun apabila kita berkata “Berekspektasilah kepada Tuhan” artinya kita mau Tuhan menyetujui semua rencana kita, menyutujui semua apa yang kita inginkan dan mengabulkannya dengan cara yang sudah kita atur dan pikirkan bahwa itulah cara dan jalan yang paling sempurna.

Anthony Robbins seorang pembicara internasional, pernah melakukan eksperimen tentang masalah HOPE & EXPECTATION ini. Dan dia mengatakan bahwa ketika orang-orang di suruh untuk memikirkan sesuatu yang mereka sangat inginkan untuk terjadi. Dia membagi orang-orang tersebut menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama mereka disuruh untuk berharap bahwa itu akan terjadi, sedangkan kelompok kedua disuruh untuk berkespektasi itu akan terjadi. Hasil yang diperoleh berdasarkan percobaan tersebut adalah kelompok pertama memiliki kemungkinan lebih besar untuk menerima kemungkinan-kemungkinan dan perubahan-perubahan lain dibandingkan kelompok kedua.

Sekarang menjadi nyata untuk kita bagaimana untuk tidak mengalami kekecewaan, yaitu berharaplah namun jangan berekspektasi. FULL OF HOPE BUT EMPTY OF EXPECTATION.

Sekarang kita mengerti mengapa kita seringkali mengalami kekecewaan. Ini disebabkan banyaknya ekspektasi yang kita hadirkan dalam setiap kehidupan kita. Kita tidak lagi berharap, namun cenderung untuk terus berekspektasi, dan ketika itu berujung kepada kekecewaan, kita mulai menyalahkan segalanya di sekitar kita, termasuk Tuhan. Kita tidak lagi melibatkan Tuhan dalam setiap rencana kita dan memberikan Dia ruang dan akses sebebas-bebasnya dalam kehidupan kita dan kita mulai jadi “raja” untuk kehidupan kita sendiri.

Aku harap apa yang aku bagikan ini bisa memberkati temen-temen dan memberikan masukan dan juga pemikiran baru kepada temen-temen tentang HOPE & EXPECTATION. Sehingga kita tahu harus memilih dan menggunakan yang mana dalam kehidupan ini. So hari ini, dihadapan kita diperhadapkan 2 pilihan, HOPE or EXPECTATION. Temen-temen bisa pilih yang manapun, namun kalau temen-temen ingin tidak kecewa lagi, pilihlah HOPE, dan akupun memilih HOPE dan bukan EXPECTATION.

“See you at the finish line..!”

GBU

Written by Strongeagle Generation

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150325251448046

Severn Suzuki – Enviromental Children’s Organization (ECO)

Leave a comment

Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yang bernama Severn Suzuki, seorang anak yang pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental Children’s Organization (ECO).

ECO sendiri adalah sebuah kelompok kecil anak-anak yang mendedikasikan diri untuk belajar dan mengajarkan pada anak-anak lain mengenai masalah-masalah lingkungan. Mereka pun diundang menghadiri Konferensi Lingkungan Hidup PBB, dimana pada saat itu Severn yang berusia 12 tahun memberikan sebuah pidato kuat yang memberikan pengaruh besar (dan membungkam) beberapa pemimpin dunia terkemuka.

Apa yang disampaikan oleh seorang anak kecil berusia 12 tahun hingga bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai ruang sidang penuh dengan orang-orang terkemuka yang berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada anak berusia 12 tahun.

Inilah isi pidato tersebut: (sumber The Collage Foundation)

Halo, nama saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O – Enviromental Children Organization.

Kami adalah kelompok dari Kanada yang terdiri dari anak-anak berusia 12 dan 13 tahun yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini sejauh 6.000 mil. Untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, hari ini disini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.

Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yang akan datang.

Saya berada disini mewakili anak-anak yang kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar.

Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan habitatnya. Kami tidak boleh tidak didengar.

Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena berlubangnya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yang dibawa oleh udara.

Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan setiap harinya – hilang selamanya.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.

Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama seperti saya sekarang?

Semua ini terjadi di hadapan kita. Walaupun begitu, kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahannya tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya!

Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita.

Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya.

Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah.

Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di tempatnya, yang sekarang hanya berupa padang pasir.

Jika anda tidak tahu bagaima cara memperbaikinya, TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!

Disini anda adalah deligasi negara-negara anda. Pengusaha, anggota perhimpunan, wartawan atau politisi – tetapi sebenarnya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi – dan anda semua adalah anak dari seseorang.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama – perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama.

Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan. Kami membeli sesuatu dan kemudian membuangnya, beli dan kemudian buang. Walaupun begitu tetap saja negara-negara di utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan.

Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.

Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan – kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan perlengkapan televisi.

Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: “Aku berharap aku kaya, dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih sayang.”

Jika seorang anak yang berada di jalanan yang tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah?

Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar. Bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia; seorang korban perang timur tengah atau pengemis di India.

Saya hanyalah seorang anak kecil namun saya tahu bahwa jika semua uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemisikinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini.

Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain.

Mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan.

Tidak menyakiti makhluk hidup lain, berbagi dan tidak tamak.

Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarkan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?

Jangan lupakan mengapa anda menghadiri konferensi ini. Mengapa anda melakukan hal ini – kami adalah anak-anak anda semua, anda sekalianlah yang memutuskan dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharusnya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan mengatakan “Semuanya akan baik-baik saja”. “Kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan” dan ”Ini bukanlah akhir dari segalanya”.

Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua?

Ayah saya selalu berkata “Kamu akan selalu dikenang karena perbuatanmu, bukan oleh kata-katamu”.

Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami.

Saya menantang A N D A, cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut.

Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.

Servern Cullis Suzuki telah membungkam 1 ruang sidang konferensi PBB, membungkam seluruh orang-orang penting dari seluruh dunia hanya dengan pidatonya. Setelah pidatonya selesai serempak seluruh orang yang hadir di ruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada anak berusia 12 tahun.

Setelah itu ketua PBB mengatakan dalam pidatonya:

“Hari ini saya merasa sangatlah malu terhadap diri saya sendiri karena saya baru saja disadarkan betapa pentingnya lingkungan dan isinya di sekitar kita oleh anak yang hanya berusia 12 tahun yang maju berdiri di mimbar ini tanpa selembar pun naskah untuk berpidato, sedangkan saya maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh assisten saya kemarin… Saya … Oh tidak, kita semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12 tahun.”

Kisah Wortel, Telur, dan Kopi

2 Comments

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api.

Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api.

Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.

Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?”

“Wortel, telur, dan kopi”, jawab si anak.

Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras.

Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?”

Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi ‘kesulitan’ yang sama, melalui proses perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.

Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi mengubah air tersebut.

“Kamu termasuk yang mana?” tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?”

“Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.

Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan maka hatimu menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?

Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi mengubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat. Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.”

Hidup ini akan selalu ada masalah dan persoalan yang menghampiri. Kita menjadi pribadi yang seperti apa, sepenuhnya tergantung pada bagaimana respon kita ketika kesulitan itu datang. Jadikan setiap persoalan, masalah, dan kesulitan hidup yang boleh kita alami sebagai alat untuk membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi daripada sebelumnya, dan bukan sebaliknya ^^

Gw jadi teringat sebuah quotes yang pernah gw dapatkan dari seorang teman:

Jalan yang mulus dan lurus tidak akan menghasilkan pengemudi yang hebat.

Laut yang tenang tidak akan menghasilkan pelaut yang tangguh.

Langit yang cerah tidak akan menghasilkan pilot yang handal.

Hidup yang tanpa masalah tidak akan menghasilkan pribadi yang kuat dan tahan uji.

Orang yang luar biasa tidak akan diproses dengan cara yang biasa🙂

Yu Yuan – Kisah Gadis Kecil Berhati Mulia

8 Comments

“AKU PERNAH DATANG DAN AKU SANGAT PATUH”

Kisah seorang gadis yatim piatu yang dirawat dan dibesarkan oleh laki-laki miskin. Gadis penderita leukemia yang memutuskan melepaskan biaya pengobatan senilai 540.000 Dollar. Dana pengobatan tersebut berhasil dihimpun dari perkumpulan orang China di seluruh dunia. Dia rela melepaskan dana pengobatan tersebut dan membaginya kepada tujuh anak yang juga sedang berjuang menghadapi kematian. Kalimat terakhir yang ia tinggalkan dalam surat wasiatnya adalah, “Saya pernah datang dan saya sangat patuh”. Seorang gadis berusia delapan tahun yang mempersiapkan pemakamannya sendiri.

Sejak lahir dia tidak pernah mengetahui siapa kedua orang tua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang ayah angkat yang memungutnya dari sebuah lapangan rumput. Seorang pria miskin berusia 30 tahun. Karena miskin, tak ada perempuan yang mau menikah dengannya.

30 November 1996, adalah saat dimana pria miskin tersebut menemukan bayi yang sedang kedinginan di atas hamparan rumput. Di atas dadanya terdapat selembar kartu kecil bertuliskan tanggal, “20 November jam 12”.

Ketika ditemukan, suara tangisnya sudah melemah. Pria tersebut khawatir jika tak ada yang memperhatikannya, maka bayi tersebut akan mati kedinginan. Ia memutuskan untuk memungutnya. Dengan berat hati karena takut tak dapat menghidupinya kelak karena kemiskinannya, ia memeluk bayi tersebut dambil berkata, “Apa yang saya makan, itulah yang kamu makan”. Kemudian ia memutuskan untuk merawat bayi tersebut dan memberinya nama Yu Yuan.

Yu Yuan akhirnya dirawat dan dibesarkan oleh seorang pria lajang dan miskin yang tak mampu membeli susu. Yu Yuan hanya diberi minum air tajin (air hasil cucian beras). Keadaan yang berat tersebut membuat Yu Yuan tumbuh menjadi anak yang lemah dan sakit-sakitan karena kurangnya asupan gizi. Namun Yu Yuan adalah anak yang sangat penurut dan patuh.

Musim silih berganti, Yu Yuan pun bertambah besar dan memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, mereka sangat menyukai Yu Yuan, meskipun ia sering sakit-sakitan. Yu Yuan tumbuh di tengah kekhawatiran ayahnya.

Yu Yuan sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Teman-temannya memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang ayah angkat. Dia sadar bahwa ia harus menjadi anak yang penurut dan tidak boleh membuat ayahnya sedih.

Yu Yuan sangat mengerti bahwa dia harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah agar ayahnya yang tidak pernah sekolah bisa merasa bangga. Dia tidak pernah mengecewakan ayahnya. Yu Yuan sering bernyanyi untuk ayahnya. Semua hal lucu yang terjadi di sekolahnya diceritakan kepada ayahnya. Senyum sang ayahlah yang bisa membuatnya bahagia.

Pada suatu pagi di bulan Mei 2005, ketika Yu Yuan sedang membasuh mukanya, ia terkejut karena air bekas basuhan mukanya berubah menjadi berwarna merah akibat darah yang menetes dari hidungnya. Darah dari hidungnya terus mengalir tanpa bisa dihentikan.

Ayahnya segera melarikan Yu Yuan ke puskesmas untuk mendapat pertolongan dokter. Di puskesmas ia diberi suntikan sebagai pertolongan awal. Namun ternyata dari bekas suntikan tersebut juga mengeluarkan darah yang terus mengalir diikuti dengan munculnya bintik-bintik merah di pahanya. Sang dokter menyarankan ayahnya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, Yu Yuan dan ayahnya masih harus menunggu karena tak mendapat nomor antrian. Selama menunggu, darah dari hidung Yu Yuan terus mengalir. Ia hanya bisa menunggu di kursi panjang ruang tunggu sambil menutup hidungnya agar darahnya tidak mengotori lantai. Tetapi banyaknya darah yang keluar tak bisa dhentikan dan mulai mengotori lantai sehingga perlu ditampung dalam sebuah baskom. Dalam waktu singkat, baskom tersebut telah dipenuhi oleh darah Yu Yuan.

Dokter yang melihat keadaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah didiagnosa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sedikitnya membutuhkan biaya sebesar 300.000 $. Ayahnya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Ia hanya hanya ingin menyelamatkan anaknya. Ayahnya berusaha mencari pinjaman dari saudara-saudaranya. Setelah jerih payah yang dilakukan, uang yang ia peroleh jumlahnya sangat sedikit. Ia memutuskan untuk menjual rumahnya. Namun sangat sulit untuk menjual rumahnya yang kumuh dalam waktu cepat.

Beban pikiran yang ditanggung membuat ayah Yu Yuan semakin kurus. Kesedihannya terlihat oleh Yu Yuan. Melihat keadaan ayahnya, Yu Yuan menjadi sangat sedih. Di ruang perawatan, ia menatap ayahnya dan menggenggam tangan sang ayah bermaksud mengatakan sesuatu kepada ayahnya. Air mata Yu Yuan mulai menetes. Bibirnya bergetar.

“Ayah, saya ingin mati”, kata Yu Yuan dengan suara yang sangat lemah.

Ayahnya terkejut mendengar apa yang dikatakan anak angkatnya itu. “Kamu masih terlalu muda, kenapa kamu ingn mati sayang?”

“Aku hanya anak yang dipungut dari lapangan rumput. Nyawaku tak berharga. Biarlah aku keluar dari rumah sakit ini.”

Karena keadaan yang teramat sulit, dengan terpaksa ayahnya menyetujui permintaan anaknya. Sadar dengan sisa hidupnya yang singkat, gadis yang masih berusia delapan tahun itupun mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakaman untuk dirinya.

Sejak kecil Yu Yuan tak pernah menuntut apapun pada ayahnya. Namun hari itu, setelah ia keluar rumah sakit ia mengajukan beberapa permintaan kepada ayahnya. Ia ingin mengenakan baju baru dan berfoto dengan ayahnya. Sang ayah memenuhi permintaan Yu Yuan, ia membelikan baju baru untuk anaknya itu dan pergi ke studio foto untuk berfoto bersama anaknya.

Dengan baju barunya Yu Yuan berpose bersama ayahnya. Dalam sakit yang dideritanya Yu Yuan berusaha tersenyum sambil menahan air matanya yang menetes membasahi pipi.

“Kalau ayah merindukanku setelah aku tidak ada, lihatlah foto ini”, ujar Yu Yuan kepada ayahnya.

Keadaan Yu Yuan diketahui oleh seluruh warga desa tempat tinggal Yu Yuan. Selama ini, ia dikenal sebagai anak yang baik dan cerdas. Penderitaan yang ditanggung Yu Yuan dan ayahnya membuat penduduk desa bersimpati dan berupaya membantu mereka dengan berusaha menggalang dana dari banyak orang.

Berita tentang Yu Yuan pun meluas sampai akhirnya terdengar oleh seorang wartawati bernama Chun Yuan. Berkat laporan yang ditulis di surat kabar tempat wartawati itu bekerja, cerita tentang anak yang mempersiapkan pemakamannya sendiri itu dengan cepat tersebar ke seluruh kota Rong Cheng. Banyak orang tergugah dengan pemberitaan di surat kabar tersebut. Kabar tentang Yu Yuan akhirnya tersebar hingga ke seluruh dunia. Orang-orang yang mengetahui cerita tentang Yu Yuan mulai menyebarkan email ke banyak orang di seluruh dunia untuk menggalang dana.

Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese di dunia saja telah terkumpul 560.000 dollar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang.

Sumbangan dana masih terus mengalir dari segala penjuru dunia meskipun pengumuman dihentikannya penggalangan dana telah disebarkan. Segala yang dibutuhkan telah tersedia untuk pengobatan Yu Yuan, semua orang menunggu kabar baik tentang Yu Yuan. Seseorang bahkan mengatakan dalam emailnya:

“Yu Yuan anakku yang tercinta, saya mengharapkan kesembuhanmu. Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan anakku tercinta.”

Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan akhirnya dibawa kembali ke ibukota. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan. Dokter Shii Min yang menangani Yu Yuan memintanya untuk menjadi anak perempuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir deras karena merasa bahagia.

Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggilnya Mama. Suara itu, Shii Min kaget, ia tersenyum sambil berkata, “Anak yang baik”.

Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan. Banyak juga orang yang menanyakan kabar Yu Yuan melalui email. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi. Fisik Yu Yuan semakin lemah.

Yu Yuan pernah bertanya kepada Fu Yuan, seorang wartawati, “Tante kenapa mereka mau menyumbang uang untuk saya?

Wartawati tersebut menjawab, “Karena mereka semua adalah orang yang baik hati”.

“Tante, saya juga mau menjadi orang yang baik hati,” ujar Yu Yuan. Dari bawah bantal tidurnya gadis kecil itu mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan. “Tante ini adalah surat wasiat saya.”

Fu Yuan kaget setelah membaca surat wasiat dari Yu Yuan. Ternyata gadis tak berdaya itu telah mempersiapkan pemakamannya sendiri. Seorang anak berumur delapan tahun yang sedang menghadapi kematian menulis tiga halaman surat wasiat yang dibagi menjadi enam bagian.

Lewat surat wasiatnya itu Yu Yan menyampaikan rasa terima kasih sekaligus mengucapkan selamat tinggal kepada semua orang yang telah sangat peduli dengan keadaannya. Kalimat terakhir dalam surat wasiat tersebut berbunyi,

“Sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa disumbangkan untuk sekolah saya. Dan katakan kepada pemimpin palang merah, setelah saya meninggal, sisa biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya agar mereka lekas sembuh.”

Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya.

“Saya pernah datang, saya sangat patuh”, itulah kata-kata terakhir yang keluar dari bibir Yu Yuan.

Pada tanggal 22 agustus, akibat pendarahan di bagian pencernaan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Yu Yuan yang telah menderita karena penyakitnya itu akhirnya menutup mata untuk selamanya. Berita ini merupakan pukulan bagi banyak orang yang mengharapkan kesembuhan Yu Yuan.

Diatas batu nisannya tertulis, “Aku pernah datang dan aku sangat patuh” (30 November 1996 – 22 Agustus 2005). Dan dibelakangnya terukir riwayat hidup Yu Yuan.

Sesuai pesan Yu Yuan, sisa dana sebesar 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita leukimia lainnya. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.

Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun terlukis di raut wajah anak tersebut.

“Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan kamu pasti sedang melihat kami diatas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan kami juga akan kami ukir dengan kata-kata: Aku pernah datang dan aku sangat patuh”.

Sumber: http://www.sahabatsurgawi.net

Zhang Da – Kisah Anak Teladan Dari Negeri China

Leave a comment

Di Propinsi Zhejiang China, ada seorang anak laki-laki yang luar biasa, sebut saja namanya Zhang Da. Perhatiannya yang besar kepada papanya, hidupnya yang pantang menyerah dan mau bekerja keras, serta tindakan dan perkataannya yang menyentuh hati membuat Zhang Da, anak lelaki yang masih berumur 10 tahun ketika memulai semua itu, pantas disebut anak yang luar biasa. Saking jarangnya seorang anak yang berbuat demikian, sehingga ketika Pemerintah China mendengar dan menyelidiki apa yang Zhang Da perbuat maka mereka pun memutuskan untuk menganugerahi penghargaan negara yang tinggi kepadanya.

Tepatnya 27 Januari 2006 Pemerintah China, di Propinsi Jiangxu, kota Nanjing, serta disiarkan secara Nasional ke seluruh pelosok negeri, memberikan penghargaan kepada 10 (sepuluh) orang yang luar biasa. Diantara 10 orang peraih penghargaan itu, ia merupakan satu-satunya anak kecil yang terpilih dari 1,4 milyar penduduk China.

Yang membuatnya dianggap luar biasa ternyata adalah perhatian dan pengabdian pada papanya, senantiasa kerja keras dan pantang menyerah, serta perilaku dan ucapannya yang menimbulkan rasa simpati.

Sejak ia berusia 10 tahun (tahun 2001) anak ini ditinggal pergi oleh mamanya yang sudah tidak tahan lagi hidup bersama suaminya yang sakit keras dan miskin. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang papa yang tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan.

Kondisi ini memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggung jawab yang sangat berat. Ia harus sekolah, ia harus mencari makan untuk papanya dan juga dirinya sendiri, ia juga harus memikirkan obat-obat yang yang pasti tidak murah untuk dia. Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa Zhang Da dimulai.

Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini. Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak menyerah.

Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggung jawab untuk meneruskan kehidupannya dan papanya. Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya.

Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui.

Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan.

Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk papanya.

Hidup seperti ini ia jalani selama 5 tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat. Zhang Da merawat papanya yang sakit sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggung jawab untuk merawat papanya.

Ia menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali memandikan papanya, ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan papanya, semua dia kerjakan dengan rasa tanggung jawab dan kasih. Semua pekerjaan ini menjadi tanggung jawabnya sehari-hari.

Zhang Da menyuntik sendiri papanya. Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak umur sepuluh tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli.

Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana seorang suster memberikan injeksi/suntikan kepada pasiennya. Setelah ia rasa mampu, ia nekad untuk menyuntik papanya sendiri. Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah dilakukannya selama lebih kurang lima tahun, maka Zhang Da sudah terampil dan ahli menyuntik.

Orang bisa bilang apa yang dilakukannya adalah perbuatan nekad, sayapun berpendapat demikian. Namun jika kita bisa memahami kondisinya, maka saya ingin katakan bahwa Zhang Da adalah anak cerdas yang kreatif dan mau belajar untuk mengatasi kesulitan yang sedang ada dalam hidup dan kehidupannya. Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah dilakukannya selama lebih kurang lima tahun, maka Zhang Da sudah trampil dan ahli menyuntik.

Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepada Zhang Da, pembawa acara (MC) bertanya kepadanya,

“Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu? Berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah?

Besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada banyak pejabat, pengusaha, dan orang terkenal yang hadir.

Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!”

Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa. MC pun berkata lagi kepadanya,

“Sebut saja, mereka bisa membantumu.”

Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar ia pun menjawab,

“Aku mau mama kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama kembalilah!”

Demikian Zhang Da bicara dengan suara yang keras dan penuh harap.

Semua yang hadir pun spontan menitikkan air mata karena terharu. Tidak ada yang menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya. Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan papanya, mengapa ia tidak minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya?

Mengapa ia tidak minta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit? Mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, pasti semua akan membantunya.

Mungkin apa yang dimintanya, itulah yang paling utama bagi dirinya. Aku mau mama kembali, sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya.

Kisah di atas bukan saja mengharukan namun juga menimbulkan kekaguman. Seorang anak berusia 10 tahun dapat menjalankan tanggung jawab yang berat selama 5 tahun. Kesulitan hidup telah menempa anak tersebut menjadi sosok anak yang tangguh dan pantang menyerah.

Zhang Da boleh dibilang langka karena sangat berbeda dengan anak-anak modern. Saat ini banyak anak yang segala sesuatunya selalu dimudahkan oleh orang tuanya. Karena alasan sayang, orang tua selalu membantu anaknya, meskipun sang anak sudah mampu melakukannya.

Sumber: http://jujunjunaedi.multiply.com

Makna Natal (Part II)

2 Comments

Eyaa… Telat banget ya post Makna Natal Part II ini >.< haikzz.. Dikarenakan beberapa faktor menyebabkan blog ini tertunda cukup lama😦 Tapi gpplah yaa… Yang penting maknanya ga hilang hihi *membeladiri.com😛 Okey.. Tanpa panjang lebar luas dan dalam lagi (*lho apa coba hahahaa), let’s check it out…

Pada posting-an Makna Natal (Part I) gw lebih banyak sharing pengalaman yang udah gw alami secara pribadi, maka di part II ini gw akan lebih banyak sharing tentang Makna Natal itu sendiri secara renungan yang gw dapatkan ^^

Tau ga kenapa Yesus mau turun ke dunia menjadi anak manusia? Itu karena Tuhan terlalu sayang ama qta, hingga Ia ga rela klo semua manusia harus binasa oleh karena manusia sudah jatuh dalam dosa. Lalu kenapa Tuhan sendiri yang harus turun ke dalam dunia? Apakah ga ada cara lain untuk menyelamatkan umat manusia? Jawabannya, andai ada, maka Yesus akan menjadi pihak pertama yang mengajukan cara tersebut dan Ia tidak perlu menjelma menjadi manusia. Tapi sayangnya, ga ada cara lainnya.. Penyebabnya adalah “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” (Roma 3:23-24).

Bayangkan Raja di atas segala raja meninggalkan tahtaNya yang mulia, mau turun ke dunia.. Dilahirkan dalam kandang domba, tidur di atas sebuah palungan, dan Ia juga diburu oleh Raja Herodes yang ingin membunuh diriNya. Di dalam perjalananNya melayani dan memberitakan Injil, Yesus banyak dicemooh dan dihina oleh orang, dikhianati oleh muridNya sendiri, hingga akhirnya Ia merelakan diriNya yang tidak bersalah untuk mati di atas kayu salib. Yesus sudah tau semua hal yang akan Ia alami selama hidup di dalam dunia ini, namun Ia tetap mau melakukannya hanya oleh satu alasan, yaitu Yesus terlalu sayang ama qta ^^

Ada hal lain yang bisa qta pelajari juga dari kejadian tersebut, bahwa sejak lahir pun Yesus sudah mengalami banyak masalah. Artinya bukan hal yang mengherankan klo qta mengalami masalah dan pergumulan selama qta masih bernafas, Yesus pun mengalaminya🙂 Tuhan ga pernah menjanjikan bahwa ketika qta ikut Tuhan, hidup qta akan terbebas dari masalah. Akan tetapi, Tuhan menjanjikan bahwa ketika qta ikut Dia, akan ada penyertaan, sukacita, dan damai sejahtera di dalam diri qta yang akan memampukan qta untuk menghadapi setiap masalah yang ada dan tampil sebagai pemenang. Jadikan setiap masalah yang ada dalam hidup qta sebagai alat yang membuat qta menjadi pribadi yang lebih tangguh dan tahan uji, bukan sebaliknya ^^

Lalu kebayang ga gimana perasaan Bapa di surga? Bagaimana perasaan seorang Bapa yang hanya memiliki seorang anak tunggal yang sangat disayangi, seorang anak yang idak pernah sekalipun berbuat salah ataupun mengecewakan BapaNya, namun harus dikorbankan demi keselamatan orang banyak? Let’s watch out this video…

Pilihan yang sulit bagi sang ayah bukan? Sang ayah hanya memiliki 2 pilihan: menyelamatkan anaknya dan mengorbankan seluruh penumpang di dalam kereta api, ataukah menyelamatkan nyawa para penumpang di dalam kereta api dan anak tunggal kesayangannya yang dikorbankan. Para penumpang terdiri dari orang-orang yang mengalami luka batin, depresi, kesepian, pemarah, egois, dsb. Bukankah qta mirip dengan gambaran kondisi para penumpang yang ada di dalam video tersebut?

Lantas keputusan apakah yang diambil oleh sang ayah? Sang ayah memilih pilihan yang kedua, yaitu menyelamatkan para penumpang dan mengorbankan anaknya yang tunggal. Bukankah hal ini sama seperti yang dilakukan oleh Bapa yang di Surga? Ia memilih untuk mengorbankan anakNya yang tunggal supaya qta, manusia yang berdosa, beroleh keselamatan melalui anakNya, Yesus Kristus.

Buat gw pribadi, keselamatan yang gw peroleh ketika gw menerima Kristus sebagai Tuhan, Juruselamat, dan Penguasa Tunggal atas hidup gw adalah sebuah kado termahal yang pernah gw peroleh selama gw hidup. Gw ga akan pernah menyia-nyiakan kado tersebut ^^

Perlu diketahui bahwa kado keselamatan ini pun berlaku dan ditawarkan untuk setiap orang, tanpa terkecuali dan tanpa memandang seberapa buruknya masa lalumu. Permasalahannya adalah apakah orang tersebut mau menerima kado atau tidak, itu adalah keputusan masing-masing pribadi ^^

 

Makna Natal (Part I)

Leave a comment

25 December 2010

Mendengar kata “Natal”, apa yang terlintas dalam pikiran qta? Kado? Perayaan Natal? Pohon Natal beserta dengan ornamen-ornamen hiasannya? Ataukah semua barang yang serba baru (entah baju, tas, etc)?

Di Natal tahun ini, gw sangat me-rhema tentang makna Natal yang sesungguhnya. Natal bukan berbicara tentang celebration berupa materi yang gw sebutkan beberapa di atas, tapi lebih mengarah kepada hal ‘Apakah Yesus sudah lahir di hati dan hidup qta?’. Natal berbicara tentang perayaan kelahiran Yesus ke dunia ini sebagai sebuah langkah awal bukti kasihNya kepada qta.

Yesus lahir di hati qta bukan hanya bertuju pada teman-teman yang belum pernah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Raja atas hidupnya, tetapi juga bertuju bagi qta yang sudah pernah menerima Yesus dalam hidup qta. Apakah Yesus masih ada, tinggal, dan berkuasa di dalam hidup qta? Ataukah jangan-jangan qta hanya menjadi kristen yang mati suri atau kristen KTP aza? *Coba cek diri masing-masing ya.. Gw ga bermaksud untuk menghakimi koq, hanya bertujuan sharing apa yang gw alami aza ^^

Gw pribadi merasakan bahwa tahun 2010 adalah tahun kekelaman buat gw, dimana banyak hal yang menjadi berantakan karena beberapa hal, mulai dari pelayanan, keluarga, karakter, etc.. Sepanjang tahun 2010 merasakan jauh banget ama Papi.. Hidup serasa berantakan abis smuaya, en tanpa sadar lambat-laun gw menjadi berusaha untuk memikul beban persoalan yang ada dengan kekuatan sendiri, ga lagi mengandalkan kekuatan dari Papi.. Berkali-kali berusaha untuk kembali lagi ke Papi en ke kasih mula-mula, tetap aza ga berhasil.. Baru up sedikit, ga lama langsung drop lagi.. >.<

Gw sempat menjadi hopeless ama diri gw sendiri, apa yang terjadi ama gw? Kenapa gw ga bisa balik lagi? Bahkan sempat terlintas dalam pikiran ‘Apakah Papi udah ga sayang lagi ya? Apakah kondisi gw udah parah banget sampai gw ga layak lagi untuk balik lagi ke Papi? Apakah Papi pun udah memalingkan mukanya karena udah hopeless ama kondisi anakNya yang satu ini?’.

Tetapi di saat yang paling terpuruknya gw, FirmanNya yang hidup pun muncul.. Bukannya di Firman tertulis bahwa qta ini mulia dan berharga di mataNya dan Tuhan mengasihi qta (Yesaya 43:4), bahkan sampai disebutkan bahwa Tuhan menjaga qta seperti biji mataNya (Ulangan 32:10b)? Bukankah Tuhan berjanji akan menyertai qta sepanjang zaman (Matius 28:20b)? Bukannya Tuhan ga akan pernah membiarkan anak-anakNya jatuh sampai tergeletak (Mazmur 37:24)? Bukankah Tuhan tidak akan pernah menolak anak-anakNya (Mazmur 27:10)?

Dua pemikiran yang berbeda bukan, klo melihat 2 alinea pemikiran di atas? Terjadi pertentangan di dalam diri, secara perasaan sepertinya Tuhan udah jauh banget en gw udah hopeless banget, tapi secara kebenaran yang terjadi justru hal yang sebaliknya. Inilah pentingnya qta merenungkan FirTu karena FirTu adalah Firman yang hidup, yang akan menjadi penuntun arah hidup qta senantiasa ^^ Ini juga yang dimaksudkan dengan hidup dengan kebenaran, bukan dengan perasaan yang selalu me-rhema dalam diri gw sejak dibagikan oleh MDI.

Bersyukur klo kondisinya ga berlangsung lebih lama lagi. Menjelang akhir tahun, Papi udah pelan-pelan membawa gw kembali lagi.. Senang banget rasanya, seolah-olah memperoleh kembali nafas hidup gw ^^ Jesus has reborn in my heart, in my life.. \:D/ Yeesss… Lets have a party hahahhaaaa

Hal kedua yang gw dapatkan dari makna Natal di tahun ini adalah Natal berbicara tentang pemulihan hubungan. Yesus datang ke dunia dengan sebuah misi yaitu memulihkan kembali hubungan qta dengan Bapa yang di Surga.

Pemulihan hubungan pun terjadi antar teman-teman gw yang sebelumnya sempat terjadi konflik, namun di akhir tahun ini perlahan-lahan hubungan yang sempat retak itu menjadi pulih kembali. Gw pribadi pun mengalami hal yang sama. Gw juga sempat mengalami konflik dengan beberapa teman yang ada, namun satu per satu konflik itu terselesaikan dengan baik. Tanggal 24 December 2010 adalah pemberesan dari konflik gw yang terakhir. Senang rasanya melihat semua hubungan yang sempat retak menjadi pulih kembali. Jadinya bisa memasuki tahun 2011 dengan lembaran yang baru, ga ada hal negatif dari tahun sebelumnya yang masih terbawa sampai ke tahun 2011 ^^

Ga hanya sampai di sana aza.. Tahun ini pun gw mulai membuat goal setting.. Hal yang udah disuruh buat dari tahun-tahun kemarin dan selalu ga pernah gw lakukan =P haha
Tapi hal yang amazing menurut gw terjadi di saat gw mulai mencoretkan goal setting untuk tahun 2011. Beberapa point di goal setting gw mulai terbuka jalannya mulai dari akhir bulan December ini. Gw sendiri sampai berpikir, koq bisa ya seperti itu? Ternyata bener lho kata temen gw yang udah buat goal setting, di saat qta menuliskan goal setting qta, sekitar 80% dari yang dituliskan itu terealisasi.. Semakin antusias aza nih memasuki tahun 2011.. Tahun 2010 boleh menjadi tahun kekelaman buat gw, tapi tahun 2011 harus menjadi tahun kemaksimalan buat gw.. Tahun dimana gw akan melayani Papiku lebih lagi dari yang sebelumnya..

Thanks Daddy for Your perfect love.. I’m glad to be Your daughter.. Your daughter has been reborn and ready to do a lot of things with You >:D<

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.