Dear All temen-temen,
Udah lama ni aku ga nulis lagi.. dan tiba-tiba nulis, eh judulnya seperti itu..hehe
Sebenarnya dah lama aku ingin menulis tentang ini, tetapi belum punya dorongan yang kuat untuk menulisnya sampai aku mengalami suatu kejadian beberapa hari yang lalu. Sesuatu yang membuatku bisa belajar sesuatu, dan aku ingin temen-temen juga belajar sesuatu dari apa yang telah aku pelajari. Siap? Ok, mari kita mulai..
Pertama-tama aku ingin bertanya kepada temen-temen.. Siapa sich dari kita yang tidak pernah mengalami yang namanya kekecewaan? Sejak dari kita kecil, sampai sekarang, adakah yang belum pernah sekalipun mengalami yang namanya kecewa? (kalau ada, boleh tolong kasih emailnya ke aku, soalnya aku ingin berguru kepada org tersebut..hehe) Aku percaya bahwa ga ada dari kita yang tidak pernah mengalami yang namanya kekecewaan, ntah itu kecewa terhadap teman, pasangan, keluarga, keadaan, bahkan yang lebih parahnya adalah kekecewaan terhadap Tuhan. Benar tidak?
Kalau kita sedang kecewa, biasanya ada beberapa orang yang mengatakan “Itu sich tergantung reaksi kita saja terhadap keadaan tersebut, kita mau kecewa apa tidak” atau ada juga yang mengatakan “Itu pilihan kita, mau kecewa atau tidak.” Well, ga ada yang salah dengan perkataan mereka. Itu 100% benar dan aku setuju banget dengan apa yang mereka katakan. Itu merupakan pilihan kita untuk merasa kecewa atau tidak. Tetapi aku mau bahas sesuatu yang lebih dalam lagi soal ini, dibanding hanya soal sekedar pilihan.
Ada pepatah mengatakan “Lebih baik mencegah daripada mengobati” benar kan? Kalau kita bisa mencegah untuk terjdnya kekecewaan, kenapa tidak dilakukan? Tindakan kita untuk memilih tidak kecewa itukan adalah reaksi yang kita lakukan setelah keluar hasil atau resultnya yaitu kekecewaan, tetapi jika kita bisa mencegah terjadinya kekecewaan itu, tentunya akan lebih baik dan tidak harus membuat kita memilih antara kecewa atau tidak.
Nah, aku mau memulainya dengan suatu kalimat yang pernah diucapkan oleh salah satu mentor ku. Dia berkata begini, “Mengapa ada banyak orang mengalami kekecewaan? Penyebabnya simple, mereka tidak bisa mengatur ekspektasi mereka.” Ketika aku mendengar kalimat ini, aku cukup lama merenungi kalimat ini dan berusaha untuk mengerti apa maksud dari kata-katanya. Ketika aku merenungkan ini, aku berkesimpulan bahwa kalau ada orang yang bisa mengatur ekspektasinya, pastilah orang tersebut tidak mengalami kekecewaan. Benar tidak?
Kemudian pertanyaan selanjutnya, apa sich yang dimaksud dengan ekspektasi itu? Aku yakin temen-temen sering dengar, bahkan sering ucapkan, tetapi apakah temen-temen benar-benar mengetahui apakah definisi dari “ekspektasi” itu sendiri? So, aku mulai search, mulai mencari, mulai mendalami apa sich yang dimaksudkan dengan ekspektasi?
Nah, di tengah-tengah sedang mencari definisi tersebut, salah seorang teman memberikan suatu alamat blog, yang ternyata sedang membahas hal yang sama, nah, aku akan coba kutip beberapa dari kalimatnya tersebut. Ini nama penulisnya adalah K Shinta. Seorang penulis senior..hehe..berikut tulisannya..
Expectations. Siapa yg dalam hidup ini gak punya expectations? Gw rasa semua org punya expectations. Waktu ke restoran, expect makanannya enak. Waktu jalan2, expect tempatnya bagus. Termasuk juga saat menikah, expect kehidupan pernikahan akan lancar2 saja walaupun ada waktunya badai menghalang. hehe..Tul gak?
Expectations. Is it a good thing? It can be. Is it a bad thing? It can be. Tergantung dari apa yg kita expect. Sebenernya apa sih expectation itu?
Well, kalo di google translate sih artinya harapan. Tapi menurut gw, artinya gak pas. Kalo harapan itu lebih ke arah “hope”. Misalnya, waktu kita ke restoran, and hope that the food will be good. Kalau ternyata makanannya gak enak, well..yach kecewa..tapi yach mau gimana lagi. Beda kalo “I expect the food to be good”. Itu artinya kita tau makanannya biasanya enak..mungkin karena ini restoran mahal dan terkenal, mungkin karena kita emang udah biasa makan di situ. Intinya, kita tau makanan di situ enak, dan kita expect kali ini makanannya juga enak. Tapi, ternyata makanannya gak enak. gimana? Wah..kecewa..marah..HUFT! Kalo hope itu mungkin lebih kearah “I want the food to be good”, sementara expect itu lebih “I know the food is going to be good”. See the difference?
Nah, kalau temen-temen mau baca lengkapnya, silahkan lihat di sini http://hanshinta1.blogspot.com/2010/06/expectations.html
Ok, balik ke pembahasan. Dari pembahasan dia, aku menemukan sesuatu yang menarik lagi yang membuat aku berpikir tentang satu kata yaitu HOPE, atau harapan. Dan ternyata kalau menurut K Shinta ini, Expectation ini berbeda dari Hope. Dan dia dengan gamblang sudah menjelaskan perbedaannya. Secara garis besar Expectation itu artinya kita sudah pernah mengalami sesuatu dan kita tau tentang sesuatu itu dan expect kalau sesuatu itu akan sama seperti dulu yang kita tahu.
Seperti contoh restoran td, kita tau itu enak, maka next time pada saat kita datang, kita expect itu juga enak. Sedangkan kalau hope, kita mungkin tidak tau, atau tidak pernah mengalami hal tersebut, tetapi kita berharap untuk terjadi sesuatu seperti yang kita bayangkan. Di contoh restoran td, misalnya dia harganya mahal, tempatnya ok, maka kita berharap makanannya enak.
Namun, aku ga mau berhenti sampai disitu, dan terus mencari apa sich bedanya ekspektasi dengan harapan? Terlebih lagi ketika temen-temen pernah mendengar kalimat ini, “Don’t lose your hope“, tetapi di sisi lain, dikatakan “don’t expect too much“. Mana yang bener ni? Apalagi kalau temen-temen pernah dengar kata-kata “Pengharapan itu tidak mengecewakan” Wow..kalau memang benar pengharapan itu tidak mengecewakan, mengapa kita mengalami kekecewaan? Apa sich sebenarnya yang salah? Nah, setelah mencari dan mencari, akhirnya aku menemukan jawabannya, dan aku harap ini bisa membantu temen-temen dalam memahaminya dan berguna dalam menjalni kehidupan ini.
Nah, sekarang coba kita pikirkan, mengapa sich kita bisa kecewa? Mengapa kekecewaan itu bisa muncul dan bisa kita rasakan? Mungkin ada beberapa dari kita akan menjawab, “Karena keinginan kita tidak terpenuhi” atau “Karena apa yang kita mau, itu tidak tercapai”. Iya, itu ada benarnya..Tetapi misalnya gini, kita mau ikut perlombaan, dan kita menginginkan juara I, tetapi kita belajarnya biasa aja, ga yang mati-matian, ga yang keras-keras amat, ga yang rajin-rajin amat. Nah, pas pengumuman, kita dapet juara II, apakah kita kecewa? Hmm..mgkn kita tidak akan kecewa. Lho knp? Kan keinginan kita tidak tercapai? Memang tidak tercapai, tetapi kita juga tau, effort kita ga segitunya, ga yang giman-gimana, makanya dapet juara II pun kita ga kecewa dan bersyukur. So, intinya kekecewaan itu ga selalu datang karena keinginan kita tidak terpenuhi.
So, mengapa kita bisa kecewa? Kapan kekecewaan itu datang? Kalau mau dibahasakan secara gampangnya, mengikuti rumus kepuasan pelanggan, maka kekecewaan itu bisa terjadi apabila cost (biaya) yang dikeluarkan lebih besar nilainya dibandingkan advantage (keuntungan) yang didapatkan. Atau bahasa gampangnya effort yang kita keluarkan tidak sebanding dengan hasil yang kita terima.
Kekecewaan tidak akan datang ketika mau juara I, trs kita belajar biasa-biasa aja, dan akhirnya jadi juara II. Kekecewaan tidak akan datang ketika kita ingin naik jabatan jadi manajer, tetapi kita ga berusaha perform dan mencapai target, sehingga cuman naik jadi supervisor.
Kekecewaan akan datang ketika kita ingin juara I, sudah belajar mati-matian, ga tidur, baca buku banyak, tetapi kita dapet juara II. Kekecewaan akan datang apabila kita ingin jadi manajer, sudah bekerja keras, memenuhi semua target, memenuhi semua keinginan bos, tetapi akhirnya kita cuman diangkat jadi supervisor. Kekecewaan akan terjadi apabila kita deketin cw yang kita suka, sudah beliin dia ini itu, sudah mengeluarkan efforf yang besar agar dia jadi cw kita, tetapi pas ditembak, malah ditolak. Hehe.. Am I making any sense to you guys?
Nah, setelah kita jelas dengan hal ini, maka kita sekarang masuk kepada pengertian Expectation dan Hope ini. Aku akan coba berikan beberapa definisi yang aku dapet dari om google tentang Ekspektasi dan Harapan ini, dan aku akan coba rangkum dan mengintisarikan apa yang akhirnya menjadi perbedaan diantara keduanya.
Kita mulai dari Hope. Berikut ini adalah beberapa pengertian HOPE:
“Hope is desire with UNCERTAINTY.”
“Harapan adalah keyakinan dalam hasil positif yang terkait dengan kejadian dan keadaan dalam kehidupan seseorang. Harapan menyiratkan sejumlah ketekunan – yaitu, percaya bahwa hasil yang positif adalah mungkin bahkan ketika ada beberapa bukti sebaliknya. Harapan sering hasil dari iman, iman membawa bentuk ilahi memberi inspirasi dan menginformasikan keyakinan positif”
“Hope: The act/practice/behaviour of putting both hands together, pray to God for something nice to happen, WITHOUT HAVING THE MENTAL IMAGE OF WHAT THEY WANT, BUT LEAVE IT TO FATE TO DECIDE WHAT HAPPENS”
“Harapan: Anda benar-benar ingin dan berdoa sesuatu akan terjadi.Tapi Anda tidak menempatkan jiwa Anda ke dalamnya dan mengharapkan, tetapi Anda hanya berharap bahwa sesuatu yang terjadi akan berubah sejalan dengan keyakinan Anda, harapan.”
“Hope describes a feeling of optimism or a desire that something will happen.Hope is the action of wishing or desiring that something will occur”
Nah, itu td HOPE..sekarang apa definisi dari EXPECTATION.
“Expectation is desire with CERTAINTY.”
“Feeling unsatisfied? Creating expectations only borrows trouble Isn’t it funny how we fill up our lives with expectations and then wander around wondering why we feel so unsatisfied? The creation of expectation is the ultimate form of SELF-SABOTAGE, and it builds a strange stage for unhappiness.”
“Expectation: The act/practice/behaviour of waiting with sheer anticipation for something to happen/someone to appear, WHILE HAVING THE IMAGE OF WHAT THEY ARE EXPECTING TO RECEIVE/SEE/ETC“
“Ekspektasi: Anda sudah mengharapkan sesuatu. Dengan citra mental dari apa yang Anda inginkan, Anda secara tidak sadar diarahkan diri untuk menunggu hal ‘gambaran mental’ diharapkan terjadi / muncul / terjadi.”
“Expectation refers to believing that something is going to happen or believing that something SHOULD BE A CERTAIN WAY”
“Expectation: It is too narrowly focused into what YOU EXPECT and WANT that you have the thought that you ALREADY KNOW WHAT YOU WANT. So, if things turn out to be the way you have expected, you would seem oblivious to whatever that happened because you expected it. When things turn out to be better that what you expect, then its considered WOW. But if it ever happens to come out to be of a lower/less than expected quality as compared to your mental image, you would have been DISAPPOINTED.”
Nah, berdasarkan kedua definisi di atas, apakah temen-temen sudah bisa melihat perbedaannya? Satu hal yang menarik adalah kekecewaan selalu dilekatkan pada Ekspektasi dan bukan pada Harapan. Ekspektasi selalu digambarkan negatif, sedangkan Hope digambarkan positif.
Untuk lebih memperjelas pemahaman kita, aku mau pake beberapa kata kunci untuk menjelaskan kedua kata tersebut, sebelum aku akan mendefinisikan ulang tentang apa itu pengharapan dan ekspektasi.
HOPE : UNCERTAINTY, WITHOUT HAVING THE MENTAL IMAGE OF WHAT THEY WANT, BUT LEAVE IT TO FATE TO DECIDE WHAT HAPPENS.
EXPECTATION : CERTAINTY, SELF-SABOTAGE, WHILE HAVING THE IMAGE OF WHAT THEY ARE EXPECTING TO RECEIVE/SEE/ETC, SHOULD BE A CERTAIN WAY, DISAPPOINTED
Nah, temen-temen sudah bisa melihat perbedaannya belum? Harapan atau Hope adalah kita mengharapkan sesuatu terjadi dalam ketidakpastian, ketidaktahuan, dan berserah, sedangkan ekspektasi, kita berhadapan dengan sesuatu yang kita tau pasti akan terjadi, kita memiliki gambaran yang jelas terhadap apa yang akan terjadi, dan kita mengharapkan itu terjadi sesuai dengan apa yang kita bayangkan tersebut.
Ada perbedaan yang sangat mendasar dalam kedua pengertian tersebut, yaitu keberadaan Tuhan. Dalam Hope, kita memberi ruang yang sangat besar untuk Tuhan untuk melakukan apa yang Dia mau lakukan terhadap sesuatu yang kita inginkan, namun dalam Expectation, kita tidak memberikan ruang sedikitpun untuk keberadaan Tuhan, seolah-olah kita tahu apa yang akan terjadi dan kita tidak membutuhkan campur tangan Tuhan.
Dalam ekspektasi, kitalah yang menjadi “tuhan” atas setiap rencana dan juga apa yang kita harapkan. Kita seolah-olah menjadi pengatur dari setiap hal yang kita harapkan akan terjadi, dan ketika terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang kita bayangkan, pikirkan akan terjadi, kita menjadi kecewa..!
Aku akan kasih satu contoh sederhana dari apa yang aku alami, agar temen-temen lebih memahaminya. Beberapa hari yang lalu aku merencanakan pergi dengan seorang teman dan aku telah menyusun rencana tentang kepergian kami tersebut, perginyanya jam berapa, pergi kemana dan akan apa di tempat tersebut. Semuanya telah terencana dengan baik sampai bahkan aku bisa membayangkan dengan detail apa yang akan terjadi, abis ini apa, setelah itu apa.
Aku memang tidak suka kalau pergi ke suatu tempat, ga jelas tujuannya apa, dan aku mulai merencanakannya. Tidak ada yang salah dengan merencanakan, namun semuanya menjadi salah ketika itu menjadi ekspektasi dan bukan lagi harapan. Everything is about me and my plan. Karena semuanya terlihat sangat pasti, sehingga aku mulai berekspektasi dan tidak lagi mengijinkan Tuhan untuk masuk dan turut campur tangan dalam rencana ku.
Aku tidak lagi membuka akan adanya kemungkinan terjadinya perubahan. Pokoknya apa yang aku bayangkan, itu yang harus terjadi. Dan yah, seperti yang terjadi dengan semua ekspektasi, akhirnya itu menuntun ku kepada kekecewaan. Rencana berubah, bahkan bukan hanya berubah, tetapi menjadi batal. Dan setiap hal yang aku bayangkan akan terjadi tiba-tiba menjadi hancur dan hilang seketika.
Ekspektasi membuat kita menjadi tertutup akan segala kemungkinan yang akan terjadi, seolah-olah apa yang sudah kita gambarkan dalam pikiran kita, itulah yang terbaik yang harus terjadi. Kita tidak lagi melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan dan juga rencana kita. Why? Karena kita dihadapkan pada suatu kondisi yang terlihat begitu pasti dengan semua kondisi dan kenyataan yang ada.
Sama seperti ketika kita belajar mati-matian, sedangkan kita lihat semua temen-temen kita belajarnya biasa-biasa saja dan bahkan cenderung ga belajar, maka kita diperhadapkan pada situasi yang kita rasa, pasti kita akan juara I. Sama halnya juga ketika kita berjuang dan berusaha keras untuk mendapatkan promosi, bahkan kita kenal dekat dengan atasan kita, berdasarkan fakta yang hampir pasti itu, kita membangun ekspektasi kita di atas dasar fakta yang ada dan tidak memberikan Tuhan ruang untuk ikut campur. Kita membangun suatu “harapan semu” diatas fakta-fakta yang terpampang dihadapan kita, fakta-fakta yang seolah-oleah menunjukkan pasti tidak akan ada kesalahan ataupun kegagalan.
Menarik contoh yang diberikan oleh K Shinta di dalam blognya, dia memberikan contoh begini,
Dalam kehidupan pernikahan, gw rasa banyak (walaupun gak semua) yg ngerasa kecewa. Suami yg waktu pacaran romantis banget, tiap bulan ngasih bunga..setelah married, lho koq gak ngasih bunga lagi? Istri yg waktu pacaran dulu cantik dan wangi selalu kalo lagi ngedate, koq sekarang kucel..tangannya bau sambal belacan pula. Suami yg dulu waktu pacaran selalu rapi, ternyata…setelah married, kaos kakinya abis pake sembarangan tarok aja di lantai. Istri yg waktu pacaran selalu tau mana makanan enak, ternyata..gak bisa masak?
Awalnya mungkin masalah2 kecil seperti itu, tapi lama2….menumpuk..menumpuk..dan menumpuk. Meledak deh. Ada juga sih pasti yg gak sampe meledak, dan berhasil diredam, tapi intinya gw rasa dalam kehidupan pernikahan ada kekecewaan. But why? Harusnya kalo udah cinta gak begitu kan? Wrong!
Menarik ketika kita membangun ekspektasi kita berdasarkan fakta-fakta yang kita tahu. Karena kita tahu pasangan kita itu orangnya romantis, maka kita ekspek untuk dia akan kasih kita bunga setiap hari. Karena kita tahu bahwa pada saat pacaran, pasangan kita itu selalu rapi, maka kita ekspek dia juga akan rapi setiap harinya setelah menikah. Bahkan kita mulai “liar” dalam ekspektasi tersebut, dan mulai membayangkan yang macam-macam.
Sekarang kita mengerti mengapa buku manual kita mengatakan,
Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”
Terlihat dengan jelas ada 2 hal di dalam kalimat tersebut. Bagian awal berbicara tentang ekspektasi, sesuatu yang sangat jelas bisa kita gambarkan, dan bahkan kita berpikir bahwa apa yg sudah kita rencanakan itulah yang terbaik untuk diri kita, padahal hanya Tuhan yang tau yang terbaik untuk diri kita.
Sedangkan kalimat kedua berbicara tentang pengharapan, dimana Tuhan ikut terlibat dalam setiap hal yang kita harapkan dan rencanakan. Sehingga ketika ada perubahan apapun, kita tahu bahwa itu dalam kendali Tuhan dan kita tidak menjadi kecewa.
Sekarang kita juga mengerti ketika buku manual kita mengatakan “Pengharapan tidak mengecewakan” karena memang ketika kita berharap, kita tidak akan pernah merasa kecewa, dan karena itu juga buku manual kita tidak berkata “Ekspektasi tidak mengecewakan” karena ekspektasi pasti akan mengecewakan. Kita juga sekarang mengerti ketika dikatakan “Berharaplah pada Tuhan” dan bukan “Berekspektasilah pada Tuhan”.
Ketika dikatakan “Berharaplah pada Tuhan” Artinya kita memang punya rencana, kita memang punya keinginan, dan kita berjuang dan berusaha untuk mencapai yang kita inginkan tersebut, tetapi kita juga tetap memberikan Tuhan otoritas untuk menyempurnakan, mengubah bahkan membatalkan rencana kita tersebut dan menggantinya dengan yang lebih sempurna menurut pemandangannya. Jalan-jalanNya terlalu tinggi dan dalam untuk bisa kita pikirkan.
Namun apabila kita berkata “Berekspektasilah kepada Tuhan” artinya kita mau Tuhan menyetujui semua rencana kita, menyutujui semua apa yang kita inginkan dan mengabulkannya dengan cara yang sudah kita atur dan pikirkan bahwa itulah cara dan jalan yang paling sempurna.
Anthony Robbins seorang pembicara internasional, pernah melakukan eksperimen tentang masalah HOPE & EXPECTATION ini. Dan dia mengatakan bahwa ketika orang-orang di suruh untuk memikirkan sesuatu yang mereka sangat inginkan untuk terjadi. Dia membagi orang-orang tersebut menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama mereka disuruh untuk berharap bahwa itu akan terjadi, sedangkan kelompok kedua disuruh untuk berkespektasi itu akan terjadi. Hasil yang diperoleh berdasarkan percobaan tersebut adalah kelompok pertama memiliki kemungkinan lebih besar untuk menerima kemungkinan-kemungkinan dan perubahan-perubahan lain dibandingkan kelompok kedua.
Sekarang menjadi nyata untuk kita bagaimana untuk tidak mengalami kekecewaan, yaitu berharaplah namun jangan berekspektasi. FULL OF HOPE BUT EMPTY OF EXPECTATION.
Sekarang kita mengerti mengapa kita seringkali mengalami kekecewaan. Ini disebabkan banyaknya ekspektasi yang kita hadirkan dalam setiap kehidupan kita. Kita tidak lagi berharap, namun cenderung untuk terus berekspektasi, dan ketika itu berujung kepada kekecewaan, kita mulai menyalahkan segalanya di sekitar kita, termasuk Tuhan. Kita tidak lagi melibatkan Tuhan dalam setiap rencana kita dan memberikan Dia ruang dan akses sebebas-bebasnya dalam kehidupan kita dan kita mulai jadi “raja” untuk kehidupan kita sendiri.
Aku harap apa yang aku bagikan ini bisa memberkati temen-temen dan memberikan masukan dan juga pemikiran baru kepada temen-temen tentang HOPE & EXPECTATION. Sehingga kita tahu harus memilih dan menggunakan yang mana dalam kehidupan ini. So hari ini, dihadapan kita diperhadapkan 2 pilihan, HOPE or EXPECTATION. Temen-temen bisa pilih yang manapun, namun kalau temen-temen ingin tidak kecewa lagi, pilihlah HOPE, dan akupun memilih HOPE dan bukan EXPECTATION.
“See you at the finish line..!”
GBU
Written by Strongeagle Generation
http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150325251448046

Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan setiap harinya – hilang selamanya.





